Speedometer Keimanan Berilmu, cakap, ibadah tekun, ahli zikir, panutan, bisakah Tuhan menilai keimanan umatnya dengan kebaikan itu, semua itukan penilaian manusia dengan julukan ahli ibadah, ahli zikir dan sebainya itu, lantas bagaimana dengan Tuhan menilainya. Mungkinkah mereka yang jahat, pemabuk, menampakan auratnya, bodoh, pendosa, tidak berpendidikan, buta agama, semua yang jelek dimata manusia bisa menjadi speedometer penilaian keimanan Tuhan kepada umatnya. Lalu bagaimana dengan pelacur yang menolong anjing kehausan dijalan, bukankah mereka juga mahluk yang menjijikan menurut penilaian manusia, tapi Tuhan memasukan mereka kedalam surganya. Manusia memang paling benar dalam menghakimi sesama manusia, tanpa melihat siapa pencipta yang memiliki kuasa akan rapot keimanan. Sejauhmana perjalanan manusia yang disucikan manusia itu, sampai bisa membuat fatwa sendiri akan keilmuanya, memberikan penolakan untuk anak muda yang bodoh yang hanya lulus TPA (Tempat...