Langsung ke konten utama

Postingan

Sedikit Garis Lurus Cahaya Kegelapan

Sedikit garis lurus cahaya kegelapan Ajaran Islam memang luas sampai membudaya universal, wajar saja jika Islam dijuluki Islam Rahmatan Lilalamin, Islam yang penuh kedamaian, kerukunan, toleransi yang sesuai dengan asas PANCASILA. Berbicara tentang Islam memang tidak ada kata titik untuk setiap pembahasanya, karna Islam ialah garis lurus cahaya penerang pada kegelapan bagi pengikutnya. Islam masuk bukan hanya dari satu versi banyak versi lainya meski hanya satu Muhammad Saw lah yang menjadi rujukan, dan hanya Allah SWT Tuhan yang disembah. Beragam versi inilah yang membuat Islam terpecah, lalu apa bedanya Islam dengan Agama kepercayaan, toh sama-sama menyembah apa yang diyakini. Ehhh malah bahas Agama di Indonesia ini jadinya hehe, salah pembahan nihhh!!!  Tapi tenang tetap stay tune diblog medoku, bakalan rilis kok tulisanya wkwkwk. Karna Islam masuk bukan hanya dari satu orang yang menyampaikan, tapi banyak mulut yang ikut menyampaikan entah itu benar atau salah yang...

Speedometer Keimanan

Speedometer Keimanan Berilmu, cakap, ibadah tekun, ahli zikir, panutan, bisakah Tuhan menilai keimanan umatnya dengan kebaikan itu, semua itukan penilaian manusia dengan julukan ahli ibadah, ahli zikir dan sebainya itu, lantas bagaimana dengan Tuhan menilainya. Mungkinkah mereka yang jahat, pemabuk, menampakan auratnya, bodoh, pendosa, tidak berpendidikan, buta agama, semua yang jelek dimata manusia bisa menjadi speedometer penilaian keimanan Tuhan kepada umatnya.  Lalu bagaimana dengan pelacur yang menolong anjing kehausan dijalan, bukankah mereka juga mahluk yang menjijikan menurut penilaian manusia, tapi Tuhan memasukan mereka kedalam surganya. Manusia memang paling benar dalam menghakimi sesama manusia, tanpa melihat siapa pencipta yang memiliki kuasa akan rapot keimanan.  Sejauhmana perjalanan manusia yang disucikan manusia itu, sampai bisa membuat fatwa sendiri akan keilmuanya, memberikan penolakan untuk anak muda yang bodoh yang hanya lulus TPA (Tempat...

Pergerakan miris dengan waktu

Pergerakan miris dengan waktu Perbaiki dulu tanahnya baru bisa subur pergerakanya. Berapa banyak waktu yang terbuang hanya untuk menunggu, katanya menunggu itu melelahkan, buktinya jadi kebiasaan. Miris sekali pergerakan ini selalu mengadakan agenda-agenda besar dengan konsepan waktu yang matang kembali menjadi nyadam, inikah kultur pergerakan yang katanya mengandalkan intelektual dalam berfikir. Warga kecil sebesar apapun usaha membuat agenda besar, dengan konsepan matang, dengan waktu yang sudah ditentukan, bahkan surat undangan sudah diedarkan, seminggu sebelum hari H dilaksanakan, tetap saja waktu kedatangan akan terlambat, bukan lagi lima, sepuluh, atau tigapuluh menit bisa melambat sampai satu atau dua jam lamanya. BBayangkanmbagaimana mudahnua merubah konsep tanpa perhitungan. Siapa sebenarnya dalang yang menceritakan melambatnya waktu sampai menjadi kebiasaan dari generasi kegenerasi atau memang sekarang sudah jamanya generasi rebahan yang terlalu membuat bermanjany...

Sedikit mengutarakan perasaan

 Mahabbah Saat sahadat cinta sudah terucap Mengapa harus diragukan Meski tangan belom berjabat Lontaran ijab sudah berkumandang Ada niatan untuk mengikat Kenapa sekarang melepaskan Lidah memang tak bertulang Tapi perasaan,  yang menuntun kebenaran Sudah tutup saja gerbang peperangan Iklaskan saja kalah dalam permainan Biarkan saja dalang yang mempertemukan Kisah baru dalam kehidupan Luka, dalam perang pasti tidak terhindarkan Lumuran darah meski tak terlihatkan Air mata tertahan  Demi mempertahankan senyuman Ikhlas lillahitaala melepaskan

gemuruh angin persahabatan

Gemuruh Angin Persahabatan Saat suara gemuruh tak lagi didengarkan Saat ucapan tak lagi dihiraukan Hanya rasa heran yang bisa dirasakan Sakit bukan lagi alasan Hanya kata heran yang bisa dilontarkan Entah rasa apa yang mereka fikirkan Saat gemuruh sahabat tak lagi didengarkan Meski setiap saat selalu bersamaan Tak ada lagi kemistri kita untuk berduaan Hanya satu permintaan Jujur setiap keadaan Susah senang kita bersama lakukan Suara ini bukan lagi angin yang bisa dihiraukan Suara ini pertanda kepedulian Kecewa sudah tidak terkendalikan Hanya satu yang bisa dipertahankan Persahabatan Ttd Yang terluka 19.20/281019

Lima hari bersama Indonesia

 5 hari besama Indonesia Bersama-sama dengan pemuda pemudi dari seluruh Indonesia yang mewakili 34 provinsi, berkumpul bersama dalam kegitan yang sama Festival Pemuda 2019. Bisa dibilang "Mininya Indonesia" ada pada 5 hari disemarang, dimana berkumpulnya semua suku, bahasa, perbedaan warna kulit, dan Agama pastinya. Bersama-sama dengan pemuda pemudi Indonesia yang berbeda pandangan, keyakinan, suku bukan berati menjadi tolak ukur bagi kita untuk  bersama-sama berkontribusi untuk Indonesia. Maka dari perbedaan bisa membuat kita jatuh cinta akan Bangsa ini karena Indonesia "Bhineka Tunggal Ika", begitu indah Negri ini dengan perbedaanya. Bukan Indonesia bila tanpa perbedaan, Bangsa ini tempatnya perbedaan, pancasila pertama menjadi satu bukti bahwa perbedaan Agama dibansa ini diperbolehkan "Tuhan yang maha Esa". Bagaimana mungkin dalam satu sila terdapat perbedaan Agama kalau bukan orang adil yang merumuskan, yang mampu menjadi ideologi bagi b...

Sang pelopor mutiara dalam lumpur kehidupan

Ketika Ada Mutiara Didalam Lumpur Perjalanan malam bersama Ayahanda tercinta mencari nasehat motivasi yang tidak bisa diukur dengan jumlah finansial belaka,  dari tokoh-tokoh besar desa tercinta. Ada yang membuat fikiran ini mulai terbuka saat beliau bercerita perjalanan hidup, berproses dibangku perkuliahan, beliau adalah sang pelopor anak muda dijaman milenial,  sudah berumur tapi memiliki semangat muda (hehehe)  bangga dong yang pernah mendapat wejangan oleh beliau secara langsung,  apalagi bisa bertemu berdiskus tatap muka setiap hari. Betapa keindahan yang luar biasa saat melihat rona wajah yang bersinar bagai cahaya, yang menentramkan hati dan fikiran. Meski sempat curiga sebenarnya seperti apa keyakinan beliau ini (sang pelopor), sampai menjadi kontroversi dimasyarakat (dahulu), karna yang terjadi dimasyarakat, demikian saya pun juga termasuk didalam orang-orang yang sempat membenci beliau,  malu sebenarnya jika bertatap muka dengan apa yang per...