Langsung ke konten utama

Postingan

Korona Dan Jiwa Santuyy Warga Negara Berflower

Korona Dan Jiwa Santuyy  Warga Negara Berflower Awal memasuki tahun 2020 ini Virus Korona menjadi topik pembicaraan Dunia, entah cara apa yang membuat Virus tersebut viral dimasyarakat, tidak butuh pencitraan lagi untuk menjadi tenar hehehe. Dari anak-anak, remaja, dewasa, bapak-bapak, emak-emak, aktivis, politikus, pemuka agama semua membicarakan Virus Korona, sangking viralnya televisi tidak henti-hentinya memberi Briking News Korona, sampai dibuatkan kode scan untuk memberi data terbaru Korona. Indosesia sebagai masyarakat berflower juga memiliki cara sendiri untuk memfiralkan Virus Korona dengan candaan khas +62 (Indonesia), dengan membuatkan papan iklan sosialmedia “Mau liburan gratis tanpa dipungut biaya, kami memberikan jasa liburan gratis keluar Negri yaitu kota Wuhan China selama 3 hari 3 malam”. Bukan +62 namanya jika tidak membuat lawakan seperti ini dibalik wabah Virus Korona yang melanda Wuhan, namanya juga Negara santuyyy. Adalagi emak-emak ya...

Menulis/ditulis(kan) S E J A R A H

Menulis/ditulis(kan) S E J A R A H Sejarah atau historis adalah kejadian dimasa lalu yang berhubungan dengan orang banyak, atau sejarah adalah yang tertuliskan agar tidak hilang dimana pada masa yang akan datang menjadi suatu rujukan pembelajaran, tau juga sejarah adalah cerita masa lalu yang diceritan pada masa sekarang untuk memberikan peran positif kepadanya (sang pembaca atau pendengarnya). Pernah ada yang berkata jika kamu disuruh memilih “Ingin menulis sejarah atau ditulis oleh sejarah” mana yang kamu pilih?????????????. Lalu  aku pun berfikir berulang kali mana yang harus aku pilih untuk sekali kehidupanya didunia ini. Jika aku memilih “ingin menulis sejarah hidupku sendiri” maka aku harus berbuat banyak untuk diriku sendiri dan orang lain, sebanyak mungkin mencetak ceita ,pengalaman baru untuk diriku agar bisa ditularkan untuk orang lain. Saat aku memilih menulis sendiri sejarahku akankah orang lain menerima semua perilaku dan sikapku dimasyarakat, karna aku ta...

Mahasiswa Masa Kini Plagiat ttd Dosen berakibat surat peryataan

Mahasiswa Plagiat  ttd  Dosen Hello apribadehhh..... Selamat pagi, siang, sore, malem menyesuaikan kalian yang lagi membaca tulisan ini yahhh, jangan serius dulu lahh di opening (haaha). Biar rileks juga ini penulis, menulis kisah nyata dari mahasiswa pengejar ttd dosen yang berujung melanggar kode etik kampus (widihhh nekat,,parah ini mahasiswa haha). Ada seorang mahasiswa semester pertengaha, tidak MABA “Mahasiswa Baru”  tidak juga MABA “Mahasiswa Basi”, yaa itulah dia ciri  dari pelaku plagiat ttd dosen itu, terbayang dong bagaimana diposisi dia, bingung kesana kemari mencari solusi, bagai mana caranya mendapatkan ttd dosen (you now lah ya bagaimana dosen kalo mau ditemui, apa lagi  dimintai ttd, kayak harganya triliunan rupiyah, tapi emang iya haha). Btw belum dikisahin ya kenapa dan untuk siapa ttd itu, baiklah diteruskan membacanya. Saat dimasa liburan akhir semester kampus biasa memberi informasi tentang pendaftaran beasiswa, atau pendaftar...

Sedikit Garis Lurus Cahaya Kegelapan

Sedikit garis lurus cahaya kegelapan Ajaran Islam memang luas sampai membudaya universal, wajar saja jika Islam dijuluki Islam Rahmatan Lilalamin, Islam yang penuh kedamaian, kerukunan, toleransi yang sesuai dengan asas PANCASILA. Berbicara tentang Islam memang tidak ada kata titik untuk setiap pembahasanya, karna Islam ialah garis lurus cahaya penerang pada kegelapan bagi pengikutnya. Islam masuk bukan hanya dari satu versi banyak versi lainya meski hanya satu Muhammad Saw lah yang menjadi rujukan, dan hanya Allah SWT Tuhan yang disembah. Beragam versi inilah yang membuat Islam terpecah, lalu apa bedanya Islam dengan Agama kepercayaan, toh sama-sama menyembah apa yang diyakini. Ehhh malah bahas Agama di Indonesia ini jadinya hehe, salah pembahan nihhh!!!  Tapi tenang tetap stay tune diblog medoku, bakalan rilis kok tulisanya wkwkwk. Karna Islam masuk bukan hanya dari satu orang yang menyampaikan, tapi banyak mulut yang ikut menyampaikan entah itu benar atau salah yang...

Speedometer Keimanan

Speedometer Keimanan Berilmu, cakap, ibadah tekun, ahli zikir, panutan, bisakah Tuhan menilai keimanan umatnya dengan kebaikan itu, semua itukan penilaian manusia dengan julukan ahli ibadah, ahli zikir dan sebainya itu, lantas bagaimana dengan Tuhan menilainya. Mungkinkah mereka yang jahat, pemabuk, menampakan auratnya, bodoh, pendosa, tidak berpendidikan, buta agama, semua yang jelek dimata manusia bisa menjadi speedometer penilaian keimanan Tuhan kepada umatnya.  Lalu bagaimana dengan pelacur yang menolong anjing kehausan dijalan, bukankah mereka juga mahluk yang menjijikan menurut penilaian manusia, tapi Tuhan memasukan mereka kedalam surganya. Manusia memang paling benar dalam menghakimi sesama manusia, tanpa melihat siapa pencipta yang memiliki kuasa akan rapot keimanan.  Sejauhmana perjalanan manusia yang disucikan manusia itu, sampai bisa membuat fatwa sendiri akan keilmuanya, memberikan penolakan untuk anak muda yang bodoh yang hanya lulus TPA (Tempat...

Pergerakan miris dengan waktu

Pergerakan miris dengan waktu Perbaiki dulu tanahnya baru bisa subur pergerakanya. Berapa banyak waktu yang terbuang hanya untuk menunggu, katanya menunggu itu melelahkan, buktinya jadi kebiasaan. Miris sekali pergerakan ini selalu mengadakan agenda-agenda besar dengan konsepan waktu yang matang kembali menjadi nyadam, inikah kultur pergerakan yang katanya mengandalkan intelektual dalam berfikir. Warga kecil sebesar apapun usaha membuat agenda besar, dengan konsepan matang, dengan waktu yang sudah ditentukan, bahkan surat undangan sudah diedarkan, seminggu sebelum hari H dilaksanakan, tetap saja waktu kedatangan akan terlambat, bukan lagi lima, sepuluh, atau tigapuluh menit bisa melambat sampai satu atau dua jam lamanya. BBayangkanmbagaimana mudahnua merubah konsep tanpa perhitungan. Siapa sebenarnya dalang yang menceritakan melambatnya waktu sampai menjadi kebiasaan dari generasi kegenerasi atau memang sekarang sudah jamanya generasi rebahan yang terlalu membuat bermanjany...

Sedikit mengutarakan perasaan

 Mahabbah Saat sahadat cinta sudah terucap Mengapa harus diragukan Meski tangan belom berjabat Lontaran ijab sudah berkumandang Ada niatan untuk mengikat Kenapa sekarang melepaskan Lidah memang tak bertulang Tapi perasaan,  yang menuntun kebenaran Sudah tutup saja gerbang peperangan Iklaskan saja kalah dalam permainan Biarkan saja dalang yang mempertemukan Kisah baru dalam kehidupan Luka, dalam perang pasti tidak terhindarkan Lumuran darah meski tak terlihatkan Air mata tertahan  Demi mempertahankan senyuman Ikhlas lillahitaala melepaskan